PETUALANG BANGSA

pelarian di negara sendiri itu aku
meredah badai kesukaran hidup
mencari sesuap rezki pada tiap terbit mentari hingga terbenam akannya
lambaian pepohonan di pinggiran pantai tidak lagi berlagu riang
hembusan angin senja selalu saja bernada pilu dan sayu
dikala mata pedih menatap langit
aku bagai sebiji bintang yg terlalu samar cahayanya dikala itu
mana keindahan malam?
mana ketenangan sang perasaan?
mampukah segalanya menjadi semakin sukar ?
keringat darah kian menanah
menutup kesukaran  hidupku
melindungi kesalahan kelakuanmu
engkau kah sang perkasa 
yang hadir hanya untuk menabur derita ?
puas sudah kau menipu langkahmu
aku tak bodoh
aku tak silap
kaulah petualang bangsa
yang hanya tahu berkira 
tentang kerja dan airmata
antara dosa dan pahala
waallahualam . . .

Comments